Rabies adalah salah satu penyakit menular yang sangat berbahaya, baik bagi hewan maupun manusia. Penyakit ini disebabkan oleh virus rabies yang menyerang sistem saraf pusat dan dapat menimbulkan gejala yang parah hingga berujung pada kematian. Di Indonesia, rabies sering disebut juga dengan istilah anjing gila. Sebutan ini muncul karena perilaku anjing yang terinfeksi rabies biasanya menjadi tidak normal, agresif, dan tampak “gila” dibandingkan dengan anjing sehat.
Namun, istilah anjing gila sering kali membuat salah kaprah di masyarakat. Tidak semua anjing yang tampak agresif atau liar berarti menderita rabies. Untuk memahami lebih jelas, mari kita bahas mengapa rabies pada anjing disebut demikian, apa saja gejalanya, serta bagaimana cara mencegah penyakit ini.
Apa Itu Rabies?
Rabies adalah penyakit zoonosis, artinya dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Penyebabnya adalah virus rabies yang masuk ke tubuh melalui gigitan, cakaran, atau air liur hewan terinfeksi. Virus ini kemudian menyebar melalui saraf menuju otak dan menyebabkan peradangan otak yang berujung pada perubahan perilaku, gangguan saraf, hingga kematian.
Anjing adalah hewan utama penular rabies di banyak negara, termasuk Indonesia. Itulah sebabnya rabies identik dengan anjing dan kemudian muncul istilah anjing gila.
Mengapa Disebut Anjing Gila?
Istilah anjing gila digunakan karena anjing yang terkena rabies biasanya menunjukkan perubahan perilaku yang ekstrem, seolah-olah kehilangan kendali atas dirinya. Beberapa alasan mengapa rabies disebut demikian antara lain:
- Perubahan Perilaku Mendadak
Anjing yang biasanya jinak bisa tiba-tiba menjadi sangat agresif, menggigit apa saja, bahkan pemiliknya sendiri.
- Agresif Tanpa Alasan Jelas
Hewan ini bisa menyerang tanpa provokasi. Sifat ini membuat orang mengasosiasikan mereka dengan kegilaan.
- Gangguan Saraf
Virus rabies menyerang otak dan sistem saraf pusat, sehingga anjing mengalami disorientasi, kebingungan, dan perilaku aneh.
- Ciri Fisik yang Menakutkan
Anjing rabies sering mengeluarkan air liur berlebihan, menyalak terus-menerus, atau tampak tidak bisa menelan. Kondisi ini memperkuat anggapan masyarakat bahwa anjing tersebut “gila”.
Ciri-Ciri Anjing Rabies
Untuk membedakan anjing rabies dengan anjing sehat, ada beberapa gejala khas yang dapat diamati:
- Perubahan Perilaku
- Anjing menjadi lebih agresif, menyerang, atau sebaliknya menjadi sangat penakut dan menyendiri.
- Menunjukkan kebingungan dan gelisah tanpa sebab.
- Air Liur Berlebihan
Produksi air liur meningkat karena virus memengaruhi otot-otot menelan. Inilah yang sering disebut sebagai “anjing berbusa mulutnya”.
- Sensitif Terhadap Cahaya dan Suara
Anjing rabies bisa menjadi sangat peka terhadap cahaya, suara, atau sentuhan, sehingga bereaksi berlebihan.
- Sulit Menelan
Gangguan saraf membuat mereka sulit menelan makanan atau minuman. Inilah yang menyebabkan penderita rabies disebut mengalami “takut air” (hydrophobia).
- Lumpuh Bertahap
Pada tahap akhir, anjing bisa mengalami kelumpuhan, biasanya dimulai dari kaki belakang, lalu menyebar ke seluruh tubuh.
Cara Penularan Rabies
Rabies menular terutama melalui:
- Gigitan
cara paling umum virus masuk ke tubuh manusia atau hewan lain.
- Cakaran
jika terdapat air liur hewan rabies pada cakar.
- Kontak air liur dengan luka terbuka
virus bisa masuk melalui kulit yang terluka atau selaput lendir.
Karena itulah, masyarakat diminta untuk selalu waspada terhadap gigitan anjing, terutama anjing liar atau yang belum divaksinasi.
Bahaya Rabies pada Manusia
Rabies bukan hanya berbahaya bagi anjing, tetapi juga mematikan bagi manusia. Setelah virus masuk ke tubuh, masa inkubasi bisa berlangsung dari beberapa minggu hingga bulan, tergantung lokasi gigitan. Gejala pada manusia meliputi:
- Demam dan rasa sakit di bekas gigitan.
- Perubahan perilaku, seperti kecemasan berlebihan atau agresif.
- Kesulitan menelan dan takut air.
- Kejang, kelumpuhan, hingga akhirnya kematian.
Tanpa penanganan segera setelah terpapar, rabies pada manusia hampir selalu berujung fatal.
Cara Mencegah Rabies pada Anjing
Untuk mencegah agar anjing tidak terkena rabies dan tidak berubah menjadi anjing gila, langkah-langkah berikut sangat penting dilakukan:
- Vaksinasi Rabies
Memberikan vaksin rabies secara rutin adalah cara paling efektif mencegah penyakit ini.
- Batasi Interaksi dengan Anjing Liar
Hindari kontak dengan anjing yang tidak diketahui status kesehatannya.
- Kebersihan dan Perawatan
Jaga kesehatan anjing dengan memberi makanan bergizi dan pemeriksaan rutin ke dokter hewan.
- Sterilisasi dan Pengendalian Populasi
Mengendalikan jumlah anjing liar melalui program sterilisasi membantu mengurangi penyebaran rabies di masyarakat.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Digigit Anjing?
Jika seseorang digigit anjing, terutama anjing liar atau anjing yang menunjukkan gejala rabies, langkah cepat berikut wajib dilakukan:
- Cuci luka dengan sabun dan air mengalir selama minimal 15 menit untuk mengurangi jumlah virus.
- Beri antiseptik atau alkohol pada luka.
- Segera ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan vaksin anti-rabies (VAR) atau serum anti-rabies (SAR).
- Amati anjing yang menggigit selama 14 hari jika memungkinkan, untuk memastikan apakah menunjukkan tanda rabies.
Rabies adalah penyakit mematikan yang masih menjadi masalah serius di Indonesia. Istilah anjing gila muncul karena anjing yang terinfeksi rabies mengalami perubahan perilaku drastis, seperti menjadi agresif, mengeluarkan air liur berlebihan, dan bertindak tidak terkendali.
Meskipun istilah ini populer, penting untuk diingat bahwa tidak semua anjing agresif adalah rabies. Oleh karena itu, pemahaman yang benar, vaksinasi rutin, dan kewaspadaan terhadap gigitan anjing sangat penting untuk melindungi diri sendiri, hewan peliharaan, dan lingkungan sekitar dari ancaman rabies.